PENERBIT IRFANI - Menyulam Api dan Puisi Lainnya
Oleh: Lidwina Nathania*
Dalam kegelapan malam
Dari dinginnya sekujur tubuh
Kutatap api
Temani diri
Api ikuti emosi
Emosi tengah luluh
Tapi menyulam bara energi
Bisa mewaspadai segala hal
Menghangatkan diri
Menyalakan daya
Bagi mereka
Yang kedinginan dan diluap emosi
Hening, terasa lalu
Syahdu, terasa lepas
Napas tanda kehidupan
Nada tanda irama hidup
Kini aku sendiri
Melantunkan irama tenang
Karena hidup bukan tentang menang
Tapi siapa yang tanam dan panen
Arti syahdunya proses terbentuk
Semua hal telah terjadi
Di akhir tahun
Berjalan dalam alunan perjuangan
Dari awal tahun
Melayangnya pikiran
Angin lalu perkataan
Hanya lilin kecil
Yang setia, walau akan habis
Menyulam Api
Dalam kegelapan malam
Dari dinginnya sekujur tubuh
Kutatap api
Temani diri
Api merajut mantel
Untuk aku yang gamang
Akan jawaban dari kebingungan
Melihat aku, meyulam api
Api ikuti emosi
Emosi tengah luluh
Tapi menyulam bara energi
Bisa mewaspadai segala hal
Tak ada yang kukagumi
Termasuk api, daya kekuatanku
Karena aku sendiri
yang menyulamnya, dalam kabut
Menghangatkan diri
Menyalakan daya
Bagi mereka
Yang kedinginan dan diluap emosi
Menanam Syahdu
Hening, terasa lalu
Syahdu, terasa lepas
Napas tanda kehidupan
Nada tanda irama hidup
Semua di bumi ini
Kerap datang dan pergi
Tak ada yang abadi
Hanya nada nan syahdu
Kini aku sendiri
Melantunkan irama tenang
Karena hidup bukan tentang menang
Tapi siapa yang tanam dan panen
Arti syahdunya proses terbentuk
Lilin Penghujung Tahun
Semua hal telah terjadi
Di akhir tahun
Berjalan dalam alunan perjuangan
Dari awal tahun
Dari pantikan pagi
Hingga pelita malam
Kadang kita bergeming
Satu malam tengah gamang
Melayangnya pikiran
Angin lalu perkataan
Hanya lilin kecil
Yang setia, walau akan habis
Satu hal yang terpenting
Masih menyala
Walau kini terang
Tetap bersyukur
Waktu cahaya temani
Saat dulu pernah gelap
Kutakkan lupa
Awal dan akhirku bersama
Lilin-lilin kecil
Saat dulu pernah gelap
Kutakkan lupa
Awal dan akhirku bersama
Lilin-lilin kecil
Profil Penulis
Lidwina Nathania. Lahir di Jakarta dan belajar kehidupan secara independen di Jawa Tengah. Lingkungan menjadi hal yang menginspirasi ia dalam melakukan kerja-kerja kerelawanan. Sementara puisi baginya, menjadi pengiring langkah untuk meromantisasi kehidupan yang kerap membentur dan membentuk dirinya.
Kurator puisi: Ahmad Soleh

