PENERBIT IRFANI - Ketika mendengar istilah musikalisasi puisi, banyak orang langsung membayangkan seseorang menyanyikan puisi dengan iringan gitar, piano, atau alat musik lainnya. Tidak sedikit pula yang menilai keberhasilan musikalisasi dari indahnya aransemen musik atau kualitas vokal para penampil.
Namun, bagi Hasan Aspahani, penyair, penulis, dan jurnalis Indonesia, cara pandang tersebut belum sepenuhnya tepat. Menurutnya, inti musikalisasi puisi bukan terletak pada musik, melainkan pada kemampuan menafsirkan puisi. Musik hanyalah media untuk menyampaikan hasil penafsiran tersebut kepada pendengar.
Pandangan ini menghadirkan perspektif yang menarik, terutama bagi guru, pelajar, komunitas sastra, maupun pegiat seni yang ingin memahami musikalisasi puisi secara lebih mendalam.
Musikalisasi Puisi Berawal dari Pemahaman
Hasan Aspahani mengingatkan bahwa sebelum seseorang menggubah puisi menjadi lagu, ia harus terlebih dahulu memahami isi puisi tersebut.
Hal ini sejalan dengan tradisi sastra Melayu yang telah lama mengenal hubungan erat antara syair dan lagu. Bahkan, dalam surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall pada tahun 1858 disebutkan bahwa syair yang dibacakan dengan lagunya justru membuat maknanya menjadi lebih terang.
Artinya, musik tidak hadir untuk menambah kemeriahan semata, melainkan membantu memperjelas makna yang sudah terkandung di dalam puisi.
Inilah alasan mengapa Hasan Aspahani menggunakan istilah **"menafsir sebelum menggubah."** Tanpa penafsiran, musikalisasi hanya akan menjadi pertunjukan musik yang kebetulan menggunakan teks puisi.
Ada Empat Hubungan antara Puisi dan Musik
Dalam paparannya, Hasan Aspahani menjelaskan bahwa hubungan antara puisi dan musik sebenarnya sangat beragam. Setidaknya ada empat bentuk hubungan yang dapat terjadi.
Pertama, musik hanya berfungsi sebagai pengiring ketika puisi dibacakan. Kedua, puisi menjadi inspirasi lahirnya sebuah komposisi musik. Ketiga, puisi dijadikan lirik lagu.
Keempat, puisi tidak hanya menjadi lirik, tetapi juga menjadi sumber utama lahirnya komposisi musik. Bentuk terakhir inilah yang disebut sebagai musikalisasi puisi.
Perbedaan ini penting dipahami karena tidak semua lagu yang menggunakan puisi dapat disebut sebagai musikalisasi puisi.
Puisi Harus Tetap Menjadi Tokoh Utama
Salah satu gagasan yang paling ditekankan Hasan Aspahani adalah bahwa puisi harus selalu menjadi pusat perhatian.
Dalam musikalisasi, yang diutamakan bukanlah kemegahan aransemen, kemampuan memainkan alat musik, ataupun teknik bernyanyi. Sebaliknya, semua unsur musikal justru harus mendukung agar puisi lebih mudah dipahami oleh pendengar.
Dengan kata lain, musik berfungsi sebagai penerjemah suasana batin puisi. Apabila setelah pertunjukan selesai penonton hanya mengingat lagunya, tetapi lupa pada isi puisinya, maka tujuan musikalisasi belum sepenuhnya tercapai.
Sebaliknya, musikalisasi yang berhasil justru membuat pendengar memperoleh pemahaman baru terhadap puisi yang dibawakan.
Menafsir adalah Proses Kreatif
Hasan Aspahani memandang bahwa setiap musikalisasi merupakan bentuk penafsiran. Artinya, seorang pemusik tidak sekadar mengubah puisi menjadi lagu. Ia terlebih dahulu membaca, memahami, merasakan, kemudian menerjemahkan pengalaman tersebut ke dalam nada, tempo, ritme, harmoni, dan komposisi vokal.
Karena merupakan proses penafsiran, hasil musikalisasi antara satu kelompok dengan kelompok lain bisa saja berbeda, meskipun menggunakan puisi yang sama. Perbedaan itu bukanlah kesalahan, selama tetap berpijak pada makna yang terkandung dalam karya.
Memahami Unsur Bunyi Sebelum Menggubah
Menurut Hasan Aspahani, salah satu langkah penting dalam menafsir puisi adalah memperhatikan unsur bunyi. Puisi memiliki kekuatan musikal yang sebenarnya sudah hadir di dalam teks melalui rima, ritme, asonansi, dan aliterasi. Unsur-unsur inilah yang membentuk irama alami sebuah puisi bahkan sebelum diberi musik.
Dengan memahami bunyi yang sudah ada, seorang penggubah dapat menciptakan komposisi musik yang selaras dengan karakter puisi, bukan justru bertentangan dengannya.
Memahami Unsur Batin Puisi
Selain bunyi, Hasan Aspahani juga menekankan pentingnya memahami unsur batin puisi. Ia mengajak pembaca memperhatikan empat hal pokok, yaitu tema, rasa, nada, dan amanat. Keempat unsur tersebut membantu penafsir memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan penyair.
Misalnya, puisi bertema kehilangan tentu membutuhkan pendekatan musikal yang berbeda dengan puisi tentang perjuangan atau cinta. Musik yang tepat bukanlah musik yang paling rumit, melainkan musik yang mampu menghadirkan kembali suasana batin puisi.
Tidak Ada Tafsir Tunggal terhadap Puisi
Salah satu bagian menarik dalam pemikiran Hasan Aspahani adalah konsep empat pintu penafsiran.
Puisi dapat dipahami melalui pendekatan mimetik yang melihat hubungan karya dengan realitas, pendekatan ekspresif yang menekankan maksud pengarang, pendekatan pragmatik yang berfokus pada pengalaman pembaca, maupun pendekatan objektif yang menelaah teks puisi itu sendiri.
Konsep ini menunjukkan bahwa puisi merupakan karya yang terbuka terhadap berbagai kemungkinan makna.
Karena itu, musikalisasi puisi tidak bertugas mencari satu tafsir yang dianggap paling benar, melainkan menghadirkan salah satu kemungkinan pembacaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara artistik.
Musikalisasi adalah Bentuk Dialog dengan Puisi
Dalam pandangan Hasan Aspahani, menggubah puisi bukan berarti mengambil alih suara penyair. Sebaliknya, proses tersebut merupakan dialog kreatif antara pembaca, penyair, dan musik.
Semakin dalam seseorang memahami puisi, semakin besar peluang lahirnya musikalisasi yang mampu menyentuh hati pendengar.
Oleh sebab itu, keberhasilan musikalisasi tidak diukur dari rumitnya aransemen musik, tetapi dari kemampuannya membantu orang lain memahami puisi dengan cara yang lebih segar dan lebih dekat dengan pengalaman hidup mereka.
Relevansi bagi Pendidikan Sastra
Pemikiran Hasan Aspahani sangat relevan diterapkan dalam pembelajaran sastra di sekolah. Selama ini, musikalisasi puisi sering hanya dipandang sebagai kegiatan seni pertunjukan. Padahal, proses terpenting justru terjadi sebelum latihan dimulai, yaitu ketika siswa membaca, menafsirkan, mendiskusikan, dan memahami makna puisi.
Pendekatan seperti ini mendorong peserta didik tidak sekadar menghafal puisi, tetapi juga belajar berpikir kritis, mengembangkan empati, dan mengapresiasi karya sastra secara lebih mendalam. Dengan demikian, musikalisasi menjadi bagian dari proses literasi, bukan sekadar hiburan.
Kesimpulan
Hasan Aspahani mengajarkan bahwa musikalisasi puisi bukanlah perlombaan menciptakan lagu yang indah, melainkan proses kreatif untuk menafsirkan puisi melalui bahasa musik.
Musik lahir setelah pembacaan yang mendalam terhadap tema, rasa, nada, amanat, unsur bunyi, serta berbagai kemungkinan tafsir yang terkandung dalam puisi. Karena itu, puisi harus tetap menjadi pusat perhatian, sedangkan musik berfungsi memperkuat dan memperjelas makna yang ingin disampaikan.
Pandangan ini mengingatkan kita bahwa apresiasi sastra tidak berhenti pada membaca atau mendengarkan, tetapi juga mengajak kita berdialog dengan karya. Ketika penafsiran dilakukan dengan penuh kepekaan, musikalisasi tidak hanya menghasilkan pertunjukan yang indah, tetapi juga pengalaman sastra yang lebih kaya bagi setiap pendengarnya.
Tentang Penerbit Irfani
Penerbit Irfani merupakan penerbitan buku indie di Kota Depok yang mendorong para penulis untuk hadir dengan karya-karya terbaiknya. Sejumlah pakar, praktisi, sastrawan, juga berbagai lembaga memercayakan penerbitan dan pencetakan bukunya di Penerbit Irfani. Selain karena biayanya terjangkau, kualitas layanan dan cetakan yang diberikan juga sangat memuaskan. Mari kita dorong lahirnya karya-karya terbaik untuk memajukan literasi dan budaya bangsa yang unggul dan mencerahkan semesta.
.png)