NaR9Nax9LWVcLGx7LGB6LGJ4NTcsynIkynwdxn1c
Teknik Swasunting Naskah, Cara Agar Tulisan Jadi Lebih Ciamik

Nyalakan Ide Bersama Penerbitirfani.com

Nyalakan Ide Bersama Penerbitirfani.com

Teknik Swasunting Naskah, Cara Agar Tulisan Jadi Lebih Ciamik


PENERBIT IRFANI - Banyak orang merasa pekerjaannya selesai setelah berhasil menulis artikel, cerpen, buku, atau karya ilmiah. Padahal, justru setelah titik terakhir diketik, pekerjaan yang tidak kalah penting baru dimulai, yaitu menyunting naskah.

Tidak sedikit tulisan yang sebenarnya memiliki gagasan menarik, tetapi gagal memikat pembaca karena dipenuhi salah ketik, kalimat yang berbelit, data yang tidak akurat, atau penggunaan bahasa yang kurang tepat. Kesalahan-kesalahan tersebut sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan menulis, melainkan karena penulis melewatkan proses penyuntingan.

Dalam dunia kepenulisan, terdapat istilah swasunting atau self-editing, yaitu proses menyunting naskah secara mandiri sebelum diserahkan kepada editor atau dipublikasikan. Kemampuan ini merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki setiap penulis, baik pemula maupun profesional.


Mengapa Swasunting Sama Pentingnya dengan Menulis?

Banyak penulis menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyusun paragraf, mencari referensi, dan memilih kata yang tepat. Namun, hanya sedikit yang meluangkan waktu untuk membaca ulang tulisannya secara kritis.

Padahal, menulis dan menyunting merupakan dua aktivitas yang berbeda. Ketika menulis, otak bekerja secara kreatif untuk menghasilkan ide dan menyusun gagasan. Sebaliknya, ketika menyunting, penulis harus berpikir secara analitis dan objektif untuk menemukan kelemahan dalam tulisannya sendiri.

Mengerjakan kedua proses tersebut secara bersamaan sering kali justru membuat penulis kehilangan fokus. Saat sedang berusaha menuangkan ide, perhatian akan mudah terpecah jika setiap kalimat langsung diperiksa berulang-ulang. Akibatnya, proses menulis menjadi lambat dan ide yang semula mengalir justru terhenti.

Karena itu, banyak editor menyarankan agar proses menulis diselesaikan terlebih dahulu. Setelah naskah selesai, barulah penulis melakukan penyuntingan dengan sudut pandang sebagai pembaca.


Apa Itu Swasunting Naskah?

Swasunting adalah proses penyuntingan yang dilakukan sendiri oleh penulis terhadap naskah yang telah diselesaikan. Tujuannya bukan hanya memperbaiki kesalahan bahasa, tetapi juga meningkatkan kualitas isi, memperjelas alur berpikir, dan memastikan pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami pembaca.

Swasunting dapat diibaratkan sebagai proses memoles sebuah karya sebelum diperlihatkan kepada orang lain. Sama seperti seorang pelukis yang memperbaiki detail lukisannya sebelum dipamerkan, penulis juga perlu memastikan tulisannya benar-benar siap dibaca publik.

Meskipun nantinya naskah akan diperiksa editor profesional, kebiasaan melakukan swasunting tetap penting. Semakin baik kualitas naskah yang dikirimkan, semakin ringan pekerjaan editor dan semakin besar peluang tulisan diterima oleh penerbit atau media massa.


Apa Saja yang Perlu Disunting?

Banyak orang mengira menyunting hanya berarti memperbaiki salah ketik. Padahal, ruang lingkup swasunting jauh lebih luas.

Pertama adalah isi naskah. Penulis perlu memastikan bahwa gagasan utama sudah jelas, pembahasan tidak keluar dari topik, serta setiap paragraf mendukung tujuan tulisan.

Kedua adalah aspek kebahasaan. Perhatikan pilihan kata, ejaan, penggunaan huruf kapital, tanda baca, serta struktur kalimat agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Ketiga adalah gaya bahasa. Tulisan yang baik bukan hanya benar secara tata bahasa, tetapi juga nyaman dibaca. Kalimat yang terlalu panjang, pengulangan kata yang berlebihan, maupun istilah yang sulit dipahami perlu disederhanakan.

Terakhir adalah akurasi data. Nama tokoh, angka, tahun, kutipan, maupun sumber informasi harus diperiksa kembali agar tidak terjadi kesalahan yang dapat mengurangi kredibilitas tulisan.


Tahapan Swasunting yang Efektif

Agar proses penyuntingan berjalan sistematis, lakukan beberapa tahapan berikut.

1. Baca Naskah Secara Menyeluruh

Jangan langsung memperbaiki setiap kalimat. Bacalah seluruh naskah terlebih dahulu untuk memperoleh gambaran utuh mengenai alur pembahasan.

Pada tahap ini, tanyakan kepada diri sendiri: apakah tulisan sudah mengalir dengan baik? Apakah setiap bagian saling berkaitan? Apakah pembaca akan memahami inti pembahasan?

2. Perbaiki Isi Tulisan

Setelah memahami keseluruhan isi, mulailah memperbaiki substansi. Hilangkan paragraf yang berulang, tambahkan penjelasan apabila ada bagian yang kurang jelas, dan pastikan setiap informasi benar-benar mendukung topik utama.

Sering kali, tulisan menjadi lebih kuat bukan karena ditambah banyak kalimat, tetapi justru karena penulis berani menghapus bagian yang tidak diperlukan.

3. Sunting Aspek Kebahasaan

Tahap berikutnya adalah memeriksa penggunaan bahasa. Perhatikan ejaan, pemilihan kata, penggunaan istilah asing, tanda baca, huruf kapital, serta konsistensi penulisan.

Kesalahan kecil seperti salah ketik memang tampak sepele, tetapi dapat mengurangi profesionalisme sebuah tulisan.

4. Periksa Logika Kalimat

Kalimat yang benar belum tentu mudah dipahami. Pastikan hubungan antarkalimat tersusun secara logis. Hindari lompatan ide yang membingungkan pembaca.

Apabila satu paragraf membahas lebih dari satu gagasan utama, pertimbangkan untuk memecahnya menjadi beberapa paragraf yang lebih ringkas.

5. Perkuat Judul dan Pesan Utama

Judul merupakan bagian pertama yang dilihat pembaca. Pastikan judul mampu menggambarkan isi tulisan sekaligus menarik perhatian.

Selain itu, identifikasi kalimat-kalimat yang memiliki kekuatan pesan. Bila perlu, ubahlah menjadi kutipan yang mudah diingat (quotable) sehingga pembaca memperoleh kesan yang lebih mendalam setelah selesai membaca.


Kesalahan yang Paling Sering Ditemukan dalam Naskah

Hampir semua penulis pernah melakukan kesalahan. Yang membedakan penulis berpengalaman adalah kemampuannya menemukan dan memperbaiki kesalahan tersebut sebelum naskah dipublikasikan.

Salah Ketik (Typo)

Kesalahan paling umum adalah salah ketik. Huruf yang tertukar, kata yang hilang, maupun spasi yang tidak tepat sering kali luput dari perhatian karena otak penulis sudah mengetahui maksud kalimat tersebut.

Salah satu cara efektif mengatasinya adalah membaca naskah dengan suara keras atau membacanya kembali beberapa jam setelah selesai menulis.

Kesalahan Ejaan

Bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan. Karena itu, penulis perlu mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Beberapa kata yang masih sering keliru antara lain survey yang seharusnya survei, analisa menjadi analisis, kerjasama menjadi kerja sama, atau himbau menjadi imbau.

Kesalahan Huruf Kapital

Kesalahan penggunaan huruf kapital juga masih banyak ditemukan.

Sebagai contoh, nama kota Jakarta, nama agama Islam, atau jabatan yang melekat pada nama orang seperti Presiden Prabowo atau Wakil Presiden Gibran ditulis menggunakan huruf kapital. Sebaliknya, kata presiden atau guru ditulis dengan huruf kecil apabila digunakan sebagai nama jabatan secara umum.

Kalimat Tidak Efektif

Kalimat efektif merupakan syarat utama agar tulisan mudah dipahami. Perhatikan penggunaan kata yang mubazir.

Sebagai contoh, kalimat "Ada banyak macam-macam program..." lebih tepat ditulis menjadi "Ada banyak program...".

Demikian pula kalimat "Guru mengajak para siswa-siswinya menulis karangan bebas berupa cerpen" dapat dipadatkan menjadi "Guru mengajak siswa menulis cerpen." Kalimat yang ringkas biasanya lebih kuat daripada kalimat yang terlalu panjang.


Tips Swasunting agar Lebih Objektif

Menyunting tulisan sendiri memiliki tantangan tersendiri karena penulis sering kali terlalu akrab dengan isi naskah.

Agar lebih objektif, beri jeda beberapa jam atau bahkan satu hari setelah selesai menulis sebelum mulai menyunting. Cara ini membantu otak melihat tulisan dengan sudut pandang yang lebih segar.

Selain itu, bacalah naskah secara perlahan. Jangan hanya membaca isi, tetapi perhatikan juga struktur kalimat, pilihan kata, dan keterhubungan antarparagraf.

Jika memungkinkan, cetak naskah atau ubah tampilannya di layar. Perubahan format sering kali membantu menemukan kesalahan yang sebelumnya terlewat.

Tidak ada salahnya pula meminta orang lain membaca tulisan Anda. Pembaca lain sering menemukan kekurangan yang tidak disadari oleh penulis.


Penulis adalah Pembaca Pertama bagi Tulisannya

Editor profesional memang memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas naskah. Namun, tanggung jawab pertama tetap berada di tangan penulis.

Setiap penulis seharusnya menjadi pembaca pertama atas tulisannya sendiri. Sebelum meminta orang lain memberikan penilaian, bacalah kembali naskah dengan kritis. Tanyakan apakah tulisan tersebut benar-benar jelas, akurat, dan nyaman dibaca.

Kebiasaan melakukan swasunting bukan hanya menghasilkan tulisan yang lebih baik, tetapi juga melatih ketelitian, kemampuan berpikir kritis, serta kepekaan terhadap penggunaan bahasa.


Kesimpulan

Swasunting merupakan tahapan yang tidak boleh diabaikan dalam proses kepenulisan. Menulis menghasilkan gagasan, sedangkan menyunting memastikan gagasan tersebut tersampaikan dengan jelas, efektif, dan bebas dari kesalahan.

Melalui kebiasaan membaca ulang, memperbaiki isi, memeriksa logika, menyempurnakan bahasa, serta memastikan akurasi data, kualitas sebuah tulisan akan meningkat secara signifikan.

Pada akhirnya, tulisan yang baik bukanlah tulisan yang selesai diketik, melainkan tulisan yang telah melalui proses penyuntingan dengan cermat. Sebab, setiap penulis yang ingin dihargai pembacanya harus terlebih dahulu menghargai tulisannya sendiri dengan memberikan waktu untuk menyunting sebelum memublikasikannya.


Tentang Penerbit Irfani

Penerbit Irfani merupakan penerbitan buku indie di Kota Depok yang mendorong para penulis untuk hadir dengan karya-karya terbaiknya. Sejumlah pakar, praktisi, sastrawan, juga berbagai lembaga memercayakan penerbitan dan pencetakan bukunya di Penerbit Irfani. Selain karena biayanya terjangkau, kualitas layanan dan cetakan yang diberikan juga sangat memuaskan. Mari kita dorong lahirnya karya-karya terbaik untuk memajukan literasi dan budaya bangsa yang unggul dan mencerahkan semesta.

Komentar

Penerbit Irfani Ruang Bertumbuh

Penerbit Irfani Ruang Bertumbuh

Iklan

Formulir Pemesanan via Whatsapp