PENERBIT IRFANI - Di tengah kemudahan mengakses apa pun hanya dengan mengusapkan jari di layar gawai, muncul fenomena yang menarik: sebagian anak muda justru kembali menikmati sensasi membaca buku cetak. Bukan sekadar nostalgia, kecenderungan ini menjadi sinyal bahwa budaya literasi di Indonesia sedang mengalami pergeseran bentuk, bukan kepunahan.
Generasi Z—yang lahir dan besar berdampingan dengan internet—ternyata tidak sepenuhnya meninggalkan buku cetak. Di berbagai festival buku dan pameran literasi, pemandangan anak muda yang antre membeli novel fisik bukan lagi hal aneh. Duta Baca Indonesia, Heri Hendrayana Harris atau yang akrab disapa Gol A Gong, punya cara unik menumbuhkan minat itu: ia memanfaatkan popularitas K-pop di kalangan pelajar sebagai "jembatan" menuju sastra Indonesia, misalnya dengan meminta siswa menyebutkan nama-nama penulis novel sebagai syarat sebelum boleh menjawab pertanyaan seputar grup K-pop favorit mereka.
Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa minat baca generasi muda tidak hilang, melainkan perlu dipicu dengan cara yang relevan dengan dunia yang mereka akrabi sehari-hari. Bagi banyak anak muda, membaca buku cetak kini menjadi semacam pelarian dari kecepatan dan kedangkalan interaksi di dunia digital—momen untuk memperlambat ritme dan menyelami isi bacaan lebih dalam.
Buku Digital Bukan Ancaman
Di sisi lain, pertumbuhan buku digital juga tidak bisa diabaikan. Kehadiran aplikasi baca elektronik membuat distribusi bacaan menjadi lebih murah, cepat, dan menjangkau siapa saja tanpa batas geografis. Bagi masyarakat di daerah yang sulit mengakses toko buku atau perpustakaan fisik, buku digital menjadi solusi nyata untuk tetap terhubung dengan bacaan berkualitas.
Menariknya, kekhawatiran bahwa buku digital akan "membunuh" industri penerbitan cetak ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Pendiri aplikasi buku digital Lentera App, Annastasia Puspaningtyas, menilai bahwa esensi buku digital dan cetak pada dasarnya sama: sama-sama berupaya memperkuat minat baca masyarakat. Sementara itu, Direktur Penerbit Yayasan Lontar, John H. McGlynn, memandang buku cetak sebagai warisan berharga yang telah melahirkan banyak generasi pencinta sastra, namun ia juga meyakini bahwa kolaborasi yang tepat antara ekosistem digital dan cetak dapat membuat keduanya bertahan berdampingan.
Fenomena ini pada akhirnya menegaskan satu hal: format bacaan boleh berubah, tetapi kebutuhan manusia akan cerita, pengetahuan, dan refleksi mendalam tetap sama. Sensasi membalik halaman, mencium aroma kertas, atau mengoleksi buku fisik masih memiliki nilai emosional yang sulit digantikan oleh layar mana pun.
Masih Perlu Kerja Keras
Beberapa data terbaru menunjukkan tren yang menggembirakan. Riset lembaga survei Jakpat pada semester kedua 2025 mencatat bahwa aktivitas membaca kalangan Gen Z (14–29 tahun) mencapai 26 persen, lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial (20 persen) maupun Gen X (18 persen). Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menilai capaian ini sebagai momentum yang harus dimanfaatkan untuk mendorong literasi nasional secara berkelanjutan, salah satunya lewat penguatan komunitas baca dan perpustakaan digital.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) juga mencatat kenaikan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia, dari 55,74 pada 2020 menjadi 72,44 pada 2024—meski angka ini masih berada di kategori "sedang". Adapun Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) turut tumbuh dari 61,55 pada 2020 menjadi 73,52 pada 2024, didorong oleh berbagai program penyediaan bahan bacaan di puluhan ribu titik lokasi, mulai dari desa hingga rumah ibadah, serta pengembangan layanan digital seperti iPusnas dan Khastara yang mencatat lebih dari 30 juta akses daring pascapandemi.
Namun, di balik tren positif itu, tantangan besar masih membayangi. Sejumlah laporan internasional, termasuk dari UNESCO dan hasil tes PISA, masih menempatkan tingkat literasi membaca Indonesia jauh di bawah rata-rata negara-negara maju. Survei GoodStats pada awal 2025 pun menemukan bahwa hanya satu dari lima orang Indonesia yang rutin membaca buku setiap hari, sementara sisanya membaca sesekali atau bahkan jarang sama sekali—dengan penyebab utama berupa rendahnya motivasi, terbatasnya akses bahan bacaan berkualitas, serta godaan hiburan instan dari media sosial.
Merawat Budaya Membaca
Yang menarik dari tren ini adalah munculnya kesadaran kolektif bahwa membaca—baik dalam bentuk cetak maupun digital—tetap menjadi fondasi penting bagi kemampuan berpikir kritis, empati, dan daya tahan terhadap misinformasi di dunia maya. Komunitas-komunitas baca, festival buku, hingga program literasi berbasis inklusi sosial kini tumbuh sebagai ruang alternatif bagi anak muda untuk menemukan kembali kenikmatan membaca dengan cara mereka sendiri.
Pada akhirnya, era digital tidak serta-merta menjadi musuh bagi buku. Yang dibutuhkan bukanlah memilih salah satu dari kertas atau layar, melainkan merancang ekosistem literasi yang mampu memadukan keduanya—agar minat baca yang mulai menggeliat di kalangan Gen Z ini benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan yang mengakar, bukan sekadar tren sesaat.
Penerbit Mendorong Minat Baca
Upaya menumbuhkan kembali budaya membaca tidak hanya datang dari pemerintah atau komunitas, tetapi juga dari para pelaku industri penerbitan. Salah satunya adalah Penerbit Irfani, yang berperan aktif mendorong masyarakat untuk kembali membaca, baik melalui buku cetak maupun format digital. Penerbit Irfani menggandeng platform baca Myedisi Reader untuk menyediakan berbagai judul buku digital yang dapat diakses oleh masyarakat luas di seluruh Indonesia, baik secara gratis maupun berbayar.
Kolaborasi semacam ini menjadi contoh nyata bagaimana pelaku industri penerbitan turut beradaptasi dengan kebutuhan pembaca masa kini—memberikan pilihan format bacaan yang fleksibel sekaligus memperluas akses terhadap bahan bacaan berkualitas. Dengan semakin banyaknya penerbit yang merangkul ekosistem digital tanpa meninggalkan buku cetak, upaya menghidupkan kembali budaya membaca di Indonesia pun mendapat dukungan yang semakin luas dari berbagai arah.
Sumber bacaan:
- Kompas.id, "Kala Generasi Digital Kembali Membaca Buku Cetak" (16 Mei 2025)
- Kompas.id, "Buku Digital Memperkuat Semangat Literasi" (27 September 2023)
- Kompas.id, "Pembaca Buku Digital Meningkat, Siapa Saja Mereka?"
- MPR RI, "Lestari Moerdijat: Minat Baca Gen Z Harus Jadi Momentum Dongkrak Literasi Nasional" (23 April 2026)
- Perpusnas RI, "Perpusnas Genjot Peningkatan Budaya Baca dan Literasi melalui Program Inklusi dan Digitalisasi" (31 Oktober 2025)
- GoodStats, "Punya Perpustakaan Tertinggi di Dunia, Minat Baca di Indonesia Masih Rendah"
Tentang Penerbit IrfaniPenerbit Irfani merupakan penerbitan buku indie di Kota Depok yang mendorong para penulis untuk hadir dengan karya-karya terbaiknya. Sejumlah pakar, praktisi, sastrawan, juga berbagai lembaga memercayakan penerbitan dan pencetakan bukunya di Penerbit Irfani. Selain karena biayanya terjangkau, kualitas layanan dan cetakan yang diberikan juga sangat memuaskan. Mari kita dorong lahirnya karya-karya terbaik untuk memajukan literasi dan budaya bangsa yang unggul dan mencerahkan semesta.
.png)