NaR9Nax9LWVcLGx7LGB6LGJ4NTcsynIkynwdxn1c
Hasil PISA 2025 Dirilis, Bagaimana Kondisi Indonesia?

Nyalakan Ide Bersama Penerbitirfani.com

Nyalakan Ide Bersama Penerbitirfani.com

Baris

Hasil PISA 2025 Dirilis, Bagaimana Kondisi Indonesia?


 PENERBIT IRFANI - JAKARTA, 8 September 2026 — Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) secara resmi merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. 

Laporan yang mengukur kemampuan akademis siswa usia 15 tahun di 91 negara dan ekonomi ini menunjukkan dinamika ganda bagi Indonesia: keberhasilan memperluas akses pendidikan secara signifikan, yang sayangnya belum diimbangi dengan peningkatan kualitas kompetensi akademis mendasar secara internasional.

Masih Tertahan di Papan Bawah

Berdasarkan capaian skor rata-rata, posisi Indonesia secara global masih belum mengalami lompatan berarti dan berada di kelompok bawah:

  • Literasi Sains: Indonesia meraih skor 389 (naik dari 383 pada 2022) dan berada di peringkat 73 dari 91 negara/ekonomi.
  • Literasi Membaca: Skor Indonesia berada di angka 365 (naik dari 359 pada 2022) dan berada di peringkat 74 dari 90 negara/ekonomi.
  • Literasi Matematika: Skor Indonesia berada di angka 364 (turun dari 366 pada 2022) dan berada di peringkat 78 dari 90 negara/ekonomi.
  • Computational Problem Solving: Pada domain baru ini, Indonesia mencatatkan skor rata-rata 427.

Di tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia masih tertinggal jauh dari Singapura yang memimpin peringkat dunia, serta berada di bawah Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Ketimpangan capaian juga terlihat jelas pada proporsi penguasaan materi:
  1. Mayoritas Belum Mencapai Kompetensi Dasar: Sebanyak 63,19% siswa di bidang Sains, 72,89% di bidang Membaca, dan 83,07% di bidang Matematika belum mencapai tingkat kecakapan dasar (Level 2).
  2. Kelompok Berprestasi Tinggi (Top Performers): Proporsi siswa Indonesia yang mampu mencapai level tingkat tinggi (Level 5 atau 6) tercatat hampir 0% di seluruh bidang, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di kisaran 6%–8%.

Dilema Akses vs Mutu

Dalam Taklimat Media yang digelar Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, pemerintah memberikan penekanan pada konteks perluasan akses (Coverage Index). Indeks cakupan anak usia 15 tahun yang mengenyam pendidikan formal di Indonesia meningkat pesat dari 46% pada 2003 menjadi 90% pada 2025.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, menilai keberhasilan Indonesia menjaga stabilitas skor selama dua dekade di tengah lonjakan peserta didik sebagai catatan positif. Di saat banyak negara OECD mengalami penurunan performa akibat dampak pascapandemi dan gangguan pembelajaran digital, hasil Indonesia cenderung bertahan.

Selain itu, laporan PISA 2025 merekam sejumlah indikator positif terkait karakter dan adaptasi teknologi pelajar Indonesia:
  • Adopsi AI dan Keterampilan Digital: 73% murid melaporkan diajarkan cara menilai kredibilitas konten buatan AI di sekolah (OECD: 63%), dan 53% aktif menggunakan AI chatbot secara mingguan.
  • Rasa Ingin Tahu & Usaha: 80% siswa menyatakan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan 90%+ aktif meminta bantuan guru maupun kawan saat kesulitan belajar.
  • Daya Tahan Akademik (Resilience): 15% siswa dari keluarga kurang beruntung secara ekonomi berhasil menembus kelompok 25% berprestasi teratas secara nasional.

Perundungan dan Growth Mindset

Di samping capaian akademis, laporan PISA 2025 membeberkan kerentanan pada lingkungan belajar di sekolah:
  1. Angka Perundungan Meningkat: Prevalensi perundungan (bullying) di sekolah meningkat kembali, dengan 24% siswa dilaporkan mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan.
  2. Rendahnya Growth Mindset: Hanya 30% siswa Indonesia yang percaya bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha (growth mindset), jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 69%.
  3. Dukungan Keluarga Menurun: Laporan siswa mengenai interaksi dan diskusi mingguan dengan orang tua terkait masalah sekolah mengalami penurunan dibanding tahun 2022.
  4. Langkah Tindak Lanjut Kemendikdasmen

Merespons temuan komprehensif ini, Kemendikdasmen menetapkan empat pilar utama pembenahan sistem pendidikan:
  1. Peningkatan Kompetensi Guru: Melalui pelatihan berbasis eksperimen, penguatan profesionalisme PPG, dan penguasaan koding serta kecerdasan artifisial.
  2. Transformasi Pembelajaran: Penerapan pembelajaran mendalam (deep learning), penguatan STEM, serta perbaikan literasi dan numerasi dasar.
  3. Penyelarasan Asesmen: Menyelaraskan kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kerangka bernalar standar PISA.
  4. Penguatan Peran Keluarga: Melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH) untuk membangun ekosistem pendukung antara rumah dan sekolah.

Kesimpulan

Hasil PISA 2025 mengonfirmasi bahwa tantangan utama pendidikan Indonesia telah bergeser. Setelah sukses membuka pintu akses sekolah bagi 90% anak usia 15 tahun, pekerjaan rumah terbesar pemerintah saat ini adalah melakukan lompatan kualitas agar mayoritas siswa tidak sekadar hadir di kelas, tetapi juga menguasai kompetensi bernalar dasar yang relevan di tingkat global.


Tentang Penerbit Irfani

Penerbit Irfani merupakan penerbitan buku indie di Kota Depok yang mendorong para penulis untuk hadir dengan karya-karya terbaiknya. Sejumlah pakar, praktisi, sastrawan, juga berbagai lembaga memercayakan penerbitan dan pencetakan bukunya di Penerbit Irfani. Selain karena biayanya terjangkau, kualitas layanan dan cetakan yang diberikan juga sangat memuaskan. Mari kita dorong lahirnya karya-karya terbaik untuk memajukan literasi dan budaya bangsa yang unggul dan mencerahkan semesta.

Komentar

Penerbit Irfani Ruang Bertumbuh

Penerbit Irfani Ruang Bertumbuh

Iklan

Formulir Pemesanan via Whatsapp