NaR9Nax9LWVcLGx7LGB6LGJ4NTcsynIkynwdxn1c
Nyala Ide untuk Peradaban

Nyalakan Ide Bersama Penerbitirfani.com

Nyalakan Ide Bersama Penerbitirfani.com

Nyala Ide untuk Peradaban



PENERBIT IRFANI - Oleh: Ahmad Soleh*

Ide adalah sesuatu yang abstrak. Ia sering terasa ada di kepala kita, tapi kadang-kadang benar-benar hilang dan sulit dicari. Entah bersembunyi di mana. Entah tersimpan terlalu dalam dan mengendap.

Setiap manusia diberikan akal pikiran oleh Tuhan salah satunya untuk bisa menangkap, mengelola, dan mengeksternalisasi ide menjadi sesuatu yang bermakna dalam konteks pemahaman bahasa manusia. Yaitu, sesuatu yang konkret. Entah itu dalam bentuk penuturan, cerita, dokumentasi, gambar, atau benar-benar menjadi sebuah karya nyata berupa benda.

Maka, tak heran jika kita melihat karya seni lukis, seni rupa, komedi, hingga karya sastra terkadang memiliki bentuk yang superunik. Bentuk yang tidak lazim. Kita kerap menamainya sebagai sebuah karya abstrak. Sebab, indera yang kita miliki belum mampu menangkap secara utuh karya tersebut.

Muncul dan Tenggelam

Seperti terombang-ambing di hamparan samudera, ide kadang muncul begitu benderang, tetapi sering juga tenggelam sampai tak bersisa. Membuat kita merasa begitu kosong dan hampa. Kepala rasanya lengang dan hanya bisa dipakai untuk aktivitas bengong sambil membayangkan hal-hal tidak penting.

Yang perlu kita pahami adalah tentang bagaimana menangkap ide saat ia muncul. Atau, bagaimana kita memancingnya agar terjerat dalam kail pikiran kita. Seorang penyair dan kritikus sastra asal Amerika, John Ashbery (1927-2017), berpandangan bahwa ide memang bisa muncul secara tiba-tiba. Ia menangkap ide itu dengan mencatatnya, hingga suatu saat catatan itu menemukan bentuknya yang sempurna. Terlahir menjadi sajak.

Sapardi Djoko Damono (1940-2020) juga pernah mengungkapkan hal serupa. Bahwa ide itu bisa muncul kapan dan di mana saja, di pesawat, toilet, jalanan, dan sebagainya. Saat ide itu muncul kita harus mencatatnya. Lalu, apakah kita butuh semacam buku catatan? Mungkin iya, mungkin juga tidak terlalu perlu. Sebab saat ini kita punya gawai yang bisa dipakai untuk mencatat bahkan merekam apa pun ide yang muncul.

Namun, ada pendapat yang berbeda. Katherine Anne Potter (1890-1980) beranggapan apa yang muncul secara tiba-tiba itu sebetulnya adalah sesuatu yang sudah lama mengendap dalam diri seseorang. Kata jurnalis dan novelis itu, “Saat kau tiba-tiba mendapat kilatan persepsi, itu hanya otakmu bekerja lebih cepat dari biasanya. Tapi kau telah siap mengetahui hal itu untuk waktu yang lama, dan saat itu muncul, kau merasa kau memang selalu mengetahuinya.”

Pengalaman setiap penulis pasti berbeda dan itu dapat memunculkan anggapan masing-masing. Namun, selama itu masuk akal, anggap saja itu sebagai bagian dari seni mengarang, khususnya bab bagaimana menangkap ide. Misalnya, pendapat pengarang satu ini yang bilang menemukan ide itu sebenarnya gampang.

Namanya Robert Penn Warren (1905-1989). Ia adalah profesor di Universitas Yale, Amerika, yang sekaligus seorang kritikus sastra. Menurut dia, menemukan ide itu gampang, yang susah itu menulisnya. Barangkali sama dengan pengalaman banyak orang, ketika berhadapan dengan mesin tik atau laptop, segalanya ambyar. Bingung mau menulis apa. Pusing mau mulai dari mana. Padahal, saat bengong, banyak ide brilian bermunculan.

Anggapan ini berangkat dari pengalaman menulis Warren yang bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan sebuah naskah. “Buku apa pun yang kutulis dimulai dengan sekelebat namun menghabiskan banyak waktu untuk mewujud,” ujar Warren. Dari ide menjadi karya, memang butuh segala upaya.

Seumpama Nyala Api

Ide itu seumpama api. Ia bisa padam saat kehabisan oksigen. Namun, ia juga bisa menyala dalam waktu yang lama. Sebagai api yang berkobar ia bisa melahap apa pun yang ada di hadapannya. Ia juga bisa membakar dengan diam-diam. Itulah saat api telah menjadi bara. Ia tak terlihat galak lagi, tapi dampaknya bisa luar biasa. Bara tampak santai dan lamat. Padahal itulah yang lebih berbahaya.

Ide itu seumpama api. Anggaplah saat ini kita sedang memantik nyala api itu. Dengan berbagai potensi ide yang kita punya, kita tuangkan dalam tulisan sederhana dan dijangkau banyak orang. Tulisan memberikan mandat kepada bahasa untuk menyalurkan energi panas api itu ke kepala-kepala yang berpikir.

Ide tidak hanya mengalir, ia akan menjalar, memberi hangat, memberi terang, dan membuat kepala penuh dengan cahaya dan kobaran pikiran.

Mungkin di dalam prosesnya akan ada perdebatan, pro-kontra, pergolakan, bahkan penolakan. Tidak semua kepala dapat memahami dan menerima panas api yang sama dengan kita. 

Maka, nyala ide itu akan terus menjadi bara saat kepala-kepala itu mencoba untuk mencernanya dengan akal pikiran. Ada pertengkaran di dalam batinnya. Ada pertimbangan di alam moralitasnya. Ada permenungan di alam ruhaninya.

Kata Kuntowijoyo (1943-2005), pengarang itu dalang dalam banyak hal. Secara historis manusia melalui ide dan pikirannya dapat membentuk persepsi, opini, dan cara pandang. Ide dapat membangun atau membangun ulang pikiran manusia. Percayalah, jika ide itu menyala, peradaban akan terang benderang. Bagaimana jika sekarang kita sama-sama menyalakan api unggun? Sepertinya itu ide yang menarik.



Profil Penulis

Ahmad Soleh merupakan pendiri penerbit irfani, esais, pengrajin puisi, dan pegiat literasi. Menulis sejumlah buku, antara lain Sebelum dan Sesudah Menulis, Bulan Bahasa dan Sejumlah Puisi Lainnya, Memutus Wabah Pilu Menyemai Benih Rindu. Ia juga menulis sejumlah buku kumpulan esai, yang terbaru berjudul Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia.


Pesan buku Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia karya Ahmad Soleh



Komentar

Penerbit Irfani Ruang Bertumbuh

Penerbit Irfani Ruang Bertumbuh
Formulir Pemesanan via Whatsapp