NaR9Nax9LWVcLGx7LGB6LGJ4NTcsynIkynwdxn1c
Joko Pinurbo: Dari Celana Sampai Penghargaan Sastra

Nyalakan Ide Bersama Penerbitirfani.com

Nyalakan Ide Bersama Penerbitirfani.com

Joko Pinurbo: Dari Celana Sampai Penghargaan Sastra


PENERBIT IRFANI - Nama Joko Pinurbo, atau yang akrab disapa Jokpin, sudah lama identik dengan puisi yang "tidak serem-serem amat". Ia mengangkat celana, sarung, kamar mandi, kopi, dan ranjang jadi bahan renungan tentang hidup. Pada 2023, perjalanan panjangnya itu diganjar Penghargaan Ahmad Bakrie ke-19 untuk bidang sastra — capaian yang, mengejutkan, justru membuat penyair kawakan ini merasa lega, bukan besar kepala.

Meski daftar penghargaannya panjang — dari Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta, Hadiah Sastra Lontar, Achmad Bakrie Award, hingga Khatulistiwa Literary Award — Jokpin mengaku Penghargaan Ahmad Bakrie tetap terasa istimewa. Alasannya sederhana: ia masih menyimpan keraguan tentang gaya puisinya sendiri, apakah benar-benar bisa diterima publik. Penghargaan itu, katanya, menjadi tanda bahwa eksperimennya selama ini diperhatikan dan dianggap memberi sumbangan bagi dunia sastra Indonesia.

Kecintaan Jokpin pada puisi tumbuh bukan dari kelas sastra, melainkan dari perpustakaan asrama sekolahnya. Karena minim hiburan, ia menghabiskan waktu membaca berbagai bidang — psikologi, sejarah, dan akhirnya jatuh cinta pada karya penyair besar seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan W.S. Rendra. Dari situ ia mulai berlatih menulis, awalnya dengan meniru gaya para pendahulunya — sebuah proses yang, menurut pengakuannya sendiri, ia jalani selama hampir dua puluh tahun.


Berhenti Meniru, Mencari Jalan Sendiri

Setelah puluhan tahun mencoba mengikuti jejak penyair-penyair besar itu, Jokpin sampai pada titik balik: ia sadar tak mungkin melampaui nama-nama besar yang sudah ada jika terus meniru. Ia pun mencari celah yang belum banyak digarap penyair sebelumnya — mengambil inspirasi dari gerakan puisi mbeling yang menunjukkan bahwa puisi bisa dibuat lebih cair dan santai, tanpa kehilangan kedalaman makna. Puisinya tetap sarat renungan, tapi disajikan dengan bahasa yang lebih akrab, ringan, dan dekat dengan unsur budaya populer.

Ikhtiar itu membuahkan hasil lewat buku puisi pertamanya, *Celana*, terbit tahun 1999. Buku ini menuai respons yang menurutnya cukup bagus meski belum ada media sosial saat itu — bahkan sempat "menyamar" masuk rak buku fesyen di toko buku karena judulnya, sebelum akhirnya dikenali sebagai kumpulan puisi.

Ciri khas Jokpin adalah mengangkat benda dan peristiwa domestik sebagai bahan puisi — celana, sarung, kamar mandi, ranjang, hingga secangkir kopi. Baginya, ritual sesederhana minum kopi pun bisa menjadi sarana relaksasi dan syukur, cara untuk tidak terlalu diburu-buru oleh urusan rezeki.

Salah satu puisinya yang paling dikenang, "Terkenang Celana Pak Guru", menggambarkan sosok guru yang lelah dan kekurangan, namun tetap dihormati murid-muridnya. Jokpin menjelaskan bahwa puisi itu memakai gaya humor yang sebenarnya bertujuan memuliakan, mengingatkan pembaca bahwa pekerjaan guru berat namun gajinya kecil. Dalam larik-larik lanjutannya, sosok guru itu berubah menjadi penjaga kuburan — sebuah pergeseran cerita yang sengaja ia bangun untuk membawa pembaca dari kisah ringan menuju makna yang lebih dalam: bahwa guru sejati adalah sosok yang menuntun hidup manusia sampai akhir hayat.

Puisi lain yang ia bahas menggambarkan situasi rumah tangga yang berantakan, seorang ibu yang terus menjahit, dan seorang ayah yang pergi merantau selama puluhan tahun. Menurut Jokpin, puisi itu sebenarnya juga menyimpan makna sosial-politik yang lebih luas: sebuah sindiran tentang bangsa Indonesia yang mencari jati diri dan demokrasi selama tiga dekade Orde Baru, dan tidak kunjung menemukannya.

Jokpin menyebut ia kerap memakai konteks rumah dan hubungan antaranggota keluarga sebagai metafora situasi masyarakat dan negara. Baginya, kedekatan fisik dalam satu rumah tidak selalu menjamin kedekatan batin — sesuatu yang menurutnya makin terasa di era ponsel, ketika orang-orang yang duduk di ruangan yang sama justru sibuk dengan gawai masing-masing.


Ratusan Puisi yang Gagal

Di balik gaya yang kini terasa ringan, ada proses panjang dan penuh kegagalan. Jokpin mengaku menyimpan ratusan puisi yang ia anggap gagal dan sengaja dimusnahkan karena tidak memuaskan dirinya sendiri — sebagian ditulis tangan, sebagian diketik mesin tik, sebelum akhirnya ia menemukan gaya yang lebih cocok setelah puluhan tahun berlatih.

Meski kini punya gaya sendiri yang khas, Jokpin menegaskan ia tak pernah sepenuhnya "melepas" para penyair besar yang menjadi guru-gurunya. Ia merasa bisa mengembangkan tradisi puisi lirik yang lebih lentur, menyampaikan refleksi sosial ala Rendra tapi dengan cara yang lebih tidak frontal — tanpa melupakan bahwa tanpa para pendahulunya itu, ia tak mungkin tumbuh seperti sekarang.

Bagi Jokpin, penghargaan seperti Ahmad Bakrie penting bukan sekadar sebagai pengakuan pribadi, melainkan sebagai teladan tentang cara menghargai karya intelektual dan sastra — karya yang tidak kelihatan secara fisik seperti pembangunan infrastruktur, namun turut menentukan peradaban sebuah bangsa.

Di penghujung usia 60-an, setelah 45 tahun menulis, ia mengaku penghargaan ini terasa seperti bonus yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya — sekaligus pengingat bahwa yang lebih penting bukan penghargaannya, melainkan bagaimana karya itu diterima dan dihidupi oleh orang lain.



Sumber: Youtube TVOne "Joko Pinurbo, Antara Humor dan Ironi | Bareng Orang Hebat"

Komentar

Penerbit Irfani Ruang Bertumbuh

Penerbit Irfani Ruang Bertumbuh

Iklan

Formulir Pemesanan via Whatsapp